masyarakat Kota Medan tidak butuh sekolah gratis. Karena pendidikan gratis tidak akan mendidik. Namun masyarakat Kota Medan butuh pendidikan murah dan berkualitas. Ini yang mesti dijamin oleh pemerintah ,ungkap calon Walikota Medan, Ir H Maulana Pohan MM, ketika berdialog dengan Gabungan Masyarakat Tapanuli Tengah–Sibolga (Gabema) di rumahnya,(31/3)
Menurut Maulana, pendidikan memang tidak boleh digratiskan. Tapi bisa dikelola dengan biaya murah, mudah diakses dan wajib bagi usia pendidikan. Sehingga tidak lagi ada anak-anak usia sekolah yang tidak mendapat pendidikan karena masalah ekonomi.
Hal serupa juga berlaku untuk sektor kesehatan. Adalah kewajiban bagi pemerintah untuk melayani warganya yang sakit. Tapi tetap tidak mesti gratis. Yang penting murah dan mudah diakses. Termasuk mengembalikan fungsi puskesmas sebagai lembaga yang melakukan peningkatan kesehatan warga dan pencegahan penyakit, bukan menjadi klinik.
“Pendidikan dan kesehatan itu hak rakyat, pemerintah harus menjalankan fungsi pelayanannya karena memang itu kewajibannya,” tukas Maulana.
Ia juga bercerita bahwa Kota Medan memiliki potensi untuk berada pada jajaran kota di Asia seperti halnya Kuala Lumpur, Penang dan Johor. Bahkan bukan tidak mungkin akan disejajarkan dengan Singapura.
“Jadi saya hanya mau menjalankan mimpi saya untuk mewujudkan kota ini sebagai kota jasa dan perdagangan. Tapi dasarnya mestilah menyiapkan masyarakat Medan memiliki sumber daya manusia yang kuat, dan infrastruktur yang mendukung pertumbuhan pembangunan itu sendiri,” tambah Maulana.
Maulana memang dikenal sebagai sosok bertanggung jawab, memiliki komitmen dan jujur. Kepada segenap masyarakat Tapanuli Tengah-Sibolga yang telah menjadi warga Kota Medan, disampaikannya, Maulana hanya menyampaikan kalau ia hanya ingin melanjutkan tanggungjawabnya, kebijakan yang selama ini tertunda.(*)
Dalam kesempatan itu, Ketua Gabema Tapteng-Sibolga, H Etnizar Simanjuntak menyampaikan, pihaknya akan mendukung satu dari dua warga terbaik yang berasal dari Tapteng-Sibolga. Adapun kriteria yang dibuatnya hanya sederhana yakni sopan, berpengalaman dan bertanggungjawab.
“Begitupun diserahkan kepada anggota Tapteng-Sibolga untuk menggunakan rasionalnya dalam memilih calon, tapi intinya tidak jauh dari nama Maulana Pohan,” sebutnya.
Selanjutnya, untuk mengetahui sosok yang lebih sopan dan bertanggungjawab serta berpengalaman, tentunya masyarakat bisa melihat masing-masing kandidat. Bahkan masyarakat diharapkan dapat memilih dengan hati nurani, bukan karena embel-embel uang ataupun janji muluk.
“Jadi semua warga Tapteng-Sibolga yang ada di Medan, marilah bekerja untuk Pilkada Medan ini. Sehingga pemenangnya memang putra terbaik yang berasal dari Tapteng-Sibolga,” tambahnya.
Pada kesempatan ini, Etnizar memang belum memutuskan apakah suara 10 ribu warga perantau Tapteng-Sibolga di Medan akan diarahkan kepada siapa. Tapi, sikap Gabema ini sendiri akan diumumkan secara luas kepada seluruh anggota yang berada di Kota Medan. (*)